Sabtu, 13 Agustus 2011

DAILY RESEARCH FOR Tuesday 26 Jul 2011

0


By SMART TECHNICAL ANALYSIS GROUP 
(M. Vernest, K. Goh, K. Calder, A. Sim, J. Barton, M. Smith, B. Budiman, D. Cunningham) 
WE STILL HAVE TIME
IHSG pada perdagangan hari ini ditutup melemah ke level 4,087.094 atau turun 19,728 points (0,48 %). Saham-saham yang mampu menjadi leader IHSG adalah BMRI, ENRG, ELTY, CMNP, BBNI, UNSP, ADMG, ASRI, AKRA, INDF, sedangkan saham-saham yang gagal bertahan di zona positif dan menjadi laggard IHSG pada perdagangan hari ini adalah ASRI, BBRI, BUMI, ITMG, TLKM, UNTR, BORN, GGRM, SMGR, BDMN.
WE STILL HAVE TIME
IHSG membuka perdagangan pada pekan ini dengan pelemahan tipis setelah adanya kekhawatiran gagal bayar hutang oleh Amerika Serikat. Beberapa hari ke depan, investor akan menunggu beberapa kesepakatan politik untuk menghakhiri perjanjian. Laporan laba perusahaan sudah berhasil mengangkat indeks. Tetapi investor tetap menunggu perkembangan dari situasi politik untuk mengatasi utang AS.

Rating Moody's yang diberikan untuk Yunani dengan default sementara telah ikut menekan pergerakan indeks di pasar hari ini. Yunani masih dinilai akan menghadapi masalah solvabilits dalam jangka menengah. Walaupun telah mendapat komitmen dengan dana bantuan darurat dari Uni Eropa dan IMF.
Terlepas dari adanya sentimen negative tersebut, IHSG diperkirakan hanya akan mengalami koreksi temporer terlebih dahulu selama bulan Juli 2011 ini dan tidak menutup kemungkinan untuk terus melanjutkan kenaikan hingga level 4,150. Hal ini masih sangat dimungkinkan mengingat hasil laporan keuangan emiten yang mulai terus dipublikasikan hingga setidaknya pekan kedua Agustus 2011.
Secara bandarology, IHSG mulai kembali mendapatkan kekuatan terbaiknya setelah hanya melemah tipis meskipun saham- saham balancing IHSG seperti TLKM, UNVR, dan PGAS memulai trend koreksi mereka pasca rebound dalam beberapa hari yang lalu. Ini jelas adalah sebuah tanda yang cukup positif.
Sementara itu, saham BUMI yang digadang-gadang akan terus menguat di atas level 3,100 pun tampaknya kembali bergerak mundur. Dengan pelemahan saham – saham tersebut, ditambah pula dengan pelemahan saham- saham unggulan seperti ASII dan juga GGRM, maka seharusnya IHSG ditutup pada zona merah yang cukup dalam.
Pada kenyataannya, IHSG justru hanya ditutup melemah tipis atau cenderung moderat dengan menggunakan bantuan dari 4 saham yaitu BMRI, INDF, AKRA, dan juga BBNI. Dengan menggunakan logika sehat, semestinya keempat saham ini tidaklah cukup untuk menahan IHSG hanya terkoreksi 0,48 %.
Ini nampaknya merupakan salah satu “stress test” yang dilakukan Bozz untuk mengetahui kondisi yang akan terjadi pada IHSG bila bursa regional mengalami koreksi dan ternyata IHSG mampu membuktikan kekuatannya untuk bertahan dari koreksi tajam. Koreksi dengan skala moderat – besar kami perkirakan akan terjadi pada medio pertengahan Agustus 2011.
Maka dari itu, hingga penutupan hari ini IHSG masih berada dalam kondisi aman dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Silahkan untuk menahan saham-saham safe heaven anda sembari menunggu rilis laporan keuangan untuk emiten-emiten tersebut. Sementara itu untuk investasi, meskipun terjadi penurunan dalam beberapa hari terakhir pada saham-saham seperti AISA, CFIN, TBLA, INDS, EKAD, dan CLPI, kami masih memberi rating outperform setelah dilakukan analisa berdasarkan fundflow analysis.
Berikut adalah salah satu fundamental notes kami yang terbaru. Diharapkan anda yang bertipe sebagai investor dapat mempertimbangkan saham-saham seperti ini untuk menjadi kendaraan investasi anda sepanjang tahun 2011 ini.
SSIA : Gorgeous Performance
By B. Budiman
Summary after edited by admin
SSIA (closing price Rp 385,- as 25 July 2011) adalah salah satu emiten yang bergerak dalam bidang property dan real estate. SSIA memiliki anak usaha yaitu PT Surya Internusa Hotel yang mulai diproyeksikan untuk menjalankan dan melebarkan bisnis perusahaan dalam sektor perhotelan.
SSIA adalah salah satu saham yang akan sangat diunggulkan untuk menjadi salah satu alternatif investasi anda untuk tahun 2011 atau bahkan hingga tahun 2012 selama kinerjanya masih menunjukan peningkatan. Dalam sektor ini, maka kita akan membandingkan SSIA dengan emiten konstruksi lainnya seperti PTPP, JKON, WIKA, dan juga TOTL. Dalam sektor konstruksi, hanya PTPP yang memiliki ratio Debt to Equity di atas 1, yang menandakan bahwa sektor ini secara keseluruhan memiliki kondisi yang baik secara finansial.
Keunggulan SSIA terlihat menonjol pada sektor ini dengan kenaikan laba bersih pada tahun 2010 yaitu sebesar Rp 115,588 miliar dibandingkan dengan laba bersih pada tahun 2009 yang hanya sebesar Rp 17,598 miliar. Tahun 2011, SSIA menargetkan akan mendapatkan laba bersih sebesar Rp 130 Miliar.
Sedangkan pada QI- 2011 saja, SSIA sudah mampu membukukan laba bersih sebesar Rp127,866 miliar atau melonjak sebesar 2.897,6% dibandingkan kuartal I 2010, di mana saat itu SSIA justru mengalami kerugian bersih sebesar Rp 4,02 miliar.
Laba bersih SSIA dikuartal I 2011 ini jelas sudah melampaui perolehan tahun 2010, yaitu sebesar Rp115,6 miliar dan bahkan telah mencapai 78% dari target laba bersih Perseroan di tahun 2011. Total pendapatan konsolidasi SSIA mencapai Rp976,7 miliar melonjak dua kali lipat lebih, yaitu 200,2% dibandingkan kuartal I 2010, sebesar Rp325,4 miliar.
Pertumbuhan laba yang disertai dengan pertumbuhan pendapatan adalah sebuah hal yang paling penting diperhatikan dalam menganalisa fundamental suatu perusahaan dan SSIA telah memenuhi hal ini. Pertumbuhan penjualan SSIA yang mencaapi 200,2 % pada QI- 2011 pun jauh melampaui kompetitor seperti WIKA (36,29%), PTPP (12,97%), JKON (-25,04%), TOTL (0,19%).
Bila kinerja SSIA terus dijaga dengan baik atau setidaknya sama dengan kinerja pada QI-2011, maka laba bersih SSIA pada 2011 FY akan mencapai Rp 469,9 miliar atau meningkat lebih dari 300 % dibanding laba bersih pada tahun 2010 yaitu Rp 115,6 miliar.
ROE (Return on Equity) SSIA pada QI-2011 lalu mencapai 47,3 % atau kembali mengalahkan para kompetitor seperti WIKA (18,4%), PTPP (7,5%), JKON (3,2%), TOTL (19,1%). William O’Neill, seorang pakar investasi dunia menyarankan anda hanya berinvestasi pada saham dengan tingkat ROE di atas 20 %.
PE / PBV analysis based QI-2011 as 25 July closing price
SSIA (3,6 x / 1,7 x) WIKA (11,3 x / 2,0 x) TOTL (9,4 x / 1,6 x) JKON (105 x / 3,2 x) PTPP (40,0x / 2,4x). SSIA adalah emiten yang murah secara valuasi dan juga memiliki ratio profitabilitas yang sangat sangat tinggi.
Valuasi SSIA sampai akhir 2011 pun diperkirakan masih akan menajdi yang termurah di sektornya. EPS (Earning Per Share) SSIA yang diperkirakan bakal mencapai Rp 434,4,- / saham pada akhir 2011 membuat valuasi SSIA saat ini secara PE Ratio hanyalah sebesar 0,84x. Sebuah angka PE yang sangat sangat rendah dan jarang ditemukan dalam pasar yang berkembang seperti Indonesia.
BV (book value) SSIA pada akhir 2011 diperkirakan akan mencapai Rp 248,57,- / saham yang juga membuat valuasi SSIA ini secara PBV hanyalah sebesar 1,47x. Performa yang luar biasa ini tidak mengherankan dapat menarik investor asing masuk ke dalam saham ini. Tercatat sejak 1 Januari 2011 – 25 Juli 2011, Macquarie Securities memiliki 80,329 lot SSIA dan JP Morgan memiliki 52,497 lot SSIA.
Recommendation : BUY & INVEST
Target harga jangka pendek Rp 415,- menengah Rp 460,- dan hingga akhir 2011 sebesar Rp 540,- / saham. Buy Point : 375-385. Risk &  Stop Loss Investor : 345
CIMB : INDY
• Growth and earnings quality under-appreciated; we initiate at OUTPERFORM.
Indika Energy (INDY) offers an attractive exposure to the Indonesian coal sector through its integrated energy services operations and 46% stake in the country’s third-largest coal producer Kideco. We expect a robust 45.6% CAGR for 2011-2013 net profit with improved earnings quality following the acquisition of coal logistics company MBSS. INDY’s current valuation of 11.0x forward P/E – the cheapest among coal players (14.9% discount to industry average) – suggests that its strong growth and better earnings quality are under-appreciated. Our SOP-based price target of Rp4,725 (upside of 21.9%) implies a fair 13.3x forward P/E. A short-term catalyst could also emerge from the expected relisting of Petrosea.
• Increasing integration and coal exposure to drive value creation. We expect Petrosea and MBSS to drive INDY’s revenue growth (24.2% three-yr CAGR) and help improve EBITDA margins to 14-22%. Future growth enhancements should come from increasing integration between INDY’s key businesses, which in turn will also raise the contribution from coal-related businesses to 69-74% of the group’s 2011-12 revenues.
• Kideco remains key growth driver. Kideco has proven itself to be one of the most reliable producers in Indonesia, with an above-peer production CAGR of 13% over the past 10 years. We expect its 8% CAGR in production over the next three years and exposure to the coal price upcycle to contribute strongly to INDY’s bottom line.
• Execution risk. The key risk to our forecasts is problems in integrating the newlyacquired businesses and coal mines.
RADAR BANDAR 26 JULY 2011 : 
Format Radar Bandar : (Kode Saham) (Tingkat keamanan) (Buy Point) (Target Profit) (Stop Loss). Kami bisa suatu saat tidak memberikan karena alasan keamanan, maksimal kami memberikan adalah 5 pilihan dan mohon hanya menggunakan maksimal 10 % dana anda. 
Tingkat keamanan :  
A (Saham masih dalam tahap akumulasi)
B (Saham sudah mulai breakout)
C (Bandar mulai memark up harga)
D (Bandar mulai menjual)
1.    EKAD (A) (540-550) (600-610) (530)
2.    INDS (B) (6,100-6,150) (6,850-6,900) (5,900-5,950)

Analyst’s Pick
1.     M. Vernest   : INDS
2.     K. Calder     : JPFA
3.     K. Goh         : TBLA
4.     J. Barton   : INDF
5.     B. Budiman :  SSIA
SUPER ALERT : BILA IHSG MENEMBUS DAN DITUTUP DI BAWAH LEVEL MA 36 DI LEVEL 3,888, EXIT FROM THE MARKET
Saham-saham Balancing Stocks : (NEW LIST)  
1.     ASII
2.     BBCA
3.     BBRI                                                   
4.     BUMI
5.     BMRI
6.     KLBF
7.     INDF
8.     GGRM
9.     INTP
10.   PTBA
 REKOMENDASI :  BUY AND HOLD  
10 TOP PICKS ( REVISI AKAN DI-RELEASE PER 14 AGUSTUS 2011) :
Kami membuat daftar 10 saham pada Special Report kemarin berdasar pada kombinasi aspek fundamental dan technical, jika ada saham-saham yang sudah OVERTARGET atau mendekati LONG TERM TARGET, maka kami akan melakukan revisi target di saham itu, apakah pantas untuk di-upgrade atau hatrus dipertahankan targetnya, yang berarti saham tersebut sudah kemahalan dan layak JUAL, Kami akan melakukan update per saham pada setiap bulannya, baik itu target, saham, dan rating-nya.
Jika memang ada saham yang gagal memenuhi syarat-syarat kami, kami akan mengeluarkan saham tersebut dari list dan mengganti dengan yang baru.
PASTIKAN SAHAM YANG ANDA BELI TETAP BERADA DI 10 TOP PICKS LIST.

TOP PICKS : (For Swing Trader not for Intraday Trader)

Note : SWING TRADING 
1.     INDF
2.     SSIA
3.     TBLA
4.     JPFA
5.     INDS
6.     CPIN ( Watch List )
7.     ASII ( Watch List )
8.     BMRI (Watch List)
9.     SGRO (Watch List )
10.   LSIP (Watch List )

Trading Plan :
Aggressive : 70 % Stocks, 30 % Cash
Conservative : 60 % Stocks, 40 % Cash
Defensive : 50 % Stocks, 50 % Cash
Cutloss level : 8 %
GBU ALL                                                          
Have an AMAZING and BLESSED TRADE
SMART TECHNICAL ANALYSIS GROUP

Smart Technical Analysis Group’s Research Team:
President Director & Head Research : B. Budiman
Fundamental Analysts : M. Vernest, K. Goh
Technical Analysts : J. Barton, K. Calder
Bandarology Analysts : A. Sim, M. Smith, D. Cunningham







Read more

 
Design by ThemeShift | Bloggerized by Lasantha - Free Blogger Templates | Best Web Hosting